Classic Rock Event

Memang tak ada matinya! Zaman berganti, artis musik dan lagu baru bermunculan, classic rock masih mendapat tempat. Memang, sekali kepincut, tak bakal orang melupakannya. Musik itu memang tidak terlalu laku untuk dipentaskan. Namun, masih ada tempat baginya. Salah satu tempat itu, Royal Garden Restaurant mencoba mengusung acara Classic Rock, Kamis (20/8) malam. Vokalis rock Dadang Aruman mengisi acara tersebut, menyanyi bergantian dengan Indro Kimpling Suseno.

Kira-kira 30 lagu disajikan oleh mereka berdua, yang tampil diiringi Black Mask Band. Sebut saja, "Carrie"
(Europe), "Take a Look at Me Now" (Phil Collins), "Under Pressure", "Bohemian Rhapsody", dan "Love of My Life" (Queen), serta "Smoke on theWater" (Deep Purple). Ini kali pertama tempat tersebut diisi pertunjukan classic rock. Pihak Royal Garden Restaurant berminat untuk mengagendakannya menjadi acara bulanan. Ketika classic rock di Yogyakarta ada dalam era emasnya, 1999-2003, salah satu tempat manggung terkenal bagi para pemusiknya adalah Java Cafe, yang kini sudah tutup.  

Di Yogyakarta, ada pula komunitas penyuka classic rock. Menurut Dadang Aruman, pada 2004 terbentuk komunitas Classic Rock Yogyakarta. Jumlah anggotanya 100-an orang, jumlah yang besar untuk Yogyakarta. Masih menurut Dadang, sulit menjelaskan mengapa era musik itu timbul dan tenggelam di Yogyakarta. Butuh banyak riset, katanya, untuk sampai pada sebuah kesimpulan. Namun yang jelas, ia juga mengatakan bahwa hal itu tak lepas dari pelaku (pemusik) dan minat sponsor. Dadang sebenarnya sudah pensiun dari panggung. Namun rasa cintanya kepada classic rock masih menyala. Itu pentas pertamanya setelah hampir tiga tahun absen. Tapi, ia tak kuasa menahan ajakan tampil. Badannya sempat meriang dan batuk, namun seperti tersiram penyegar ketika sudah memegang mikrofon.

Apalagi Dadang bergantian menyanyi dengan Indro, temannya yang juga dedengkot Classic Rock Yogyakarta. Dadang, yang sudah 30 tahun malang-melintang di musik rock tersebut, selain membentuk Black Mask Band, pernah mendirikan pula band rock Javaboc. Keduanya grup yang disegani di
Yogyakarta. Dikatakan oleh Indro, dari classic rock, yang dijual adalah nostalgianya. Musik tersebut bisa langgeng dikenang karena memliki unusur seni yang kental. Unsur itulah yang terus menelusup ke relung jiwa dan menghanyutkan pendengar. Musik tersebut berbeda dengan musik instan zaman sekarang.

Apa sih batasan era classic rock? Tak ada batasan dan tema ini selalu muncul dalam banyak diskusi. "Saat
saya kecil, orang bilang musik tersebut adalah musik (rock) dari era di bawah 1990. Tapi, 20 tahun lagi, bisa saja musik (rock) sekarang digolongkan classic rock. Hal yang pokok itu bukan pada tahun lagu itu dipopulerkan, melainkan jiwa lagu dan orang-lah yang otomatis mengategorikan itu layak dikenang sebagai musik rock klasik atau tidak," kata Dadang.